#8 Dalam Asuhan Sang Kakek

1. Setelah ibunda wafat, Muhammad kecil kini diasuh oleh kakeknya, ‘Abdul Muthallib di Makkah. Usia Muhammad saat itu 6 tahun dan masa pengasuhan bersama kakeknya akan berlangsung selama 2 tahun.

2. ‘Abdul Muthallib merupakan tokoh terhormat di kalangan Quraisy. Setiap mata yang memandangnya akan terpesona oleh kerupawan, kewibawaan, kearifan, dan kemuliaan pribadi’ Abdul Muthalib. Jika dia datang, semua orang tertunduk dan tidak seorang pun bernyali untuk berbicara di hadapannya. Dialah yang berwenang untuk berbicara atas nama Quraisy kepada penguasa di negeri tetangga. Dia pula yang menduduki jabatan duta besar kabilah Quraisy, dan menerima delegasi dari luar.

3. ‘Abdul Muthallib sangat menyayangi cucunya. Ia tidak segan menciumnya di hadapan khalayak, menggendongnya, dan membawanya ke sana kemari. Lebih dari itu, sang kakek amat mengagumi cucunya.

4. Pernah suatu hari, Muhammad menduduki singgasana yang khusus disediakan kaum Quraisy untuk ‘Abdul Muthallib. Selama ini, tidak seorang pun berani mendekat, apalagi duduk di atas singgasana ‘Abdul Muthallib. Namun, Muhammad dengan lugu dan berani menduduki singgasana sang kakek. Seorang pembantu menarik tubuh Muhammad dan menurunkannya dari atas singgasana, tetapi Muhammad dengan polosnya kembali menduduki tempat itu. Bukannya marah, sang kakek hanya tersenyum melihat ulah cucu kesayangannya. Dia elus punggung Muhammad dengan kasih sambil berujar, ” Biarkan dia, Demi Allah di akan menjadi orang besar!”

5. Kasih sayang sang kakek tak bertahan lama. Kembali Muhammad ditinggalkan orang yang mencintainya. Saat Muhammad berusia 8 tahun, sang kakek meninggal di Makkah. Ia lalu diasuh oleh pamannya Abu Thalib, sesuai wasiat ‘Abdul Muthallib.

6. Di sini kita bisa mengambil pelajaran bagaimana menjadi seorang kakek dalam mendidik cucu agar kelak menjadi orang besar. Lihat perkataan ‘Abdul Muthallib saat tidak melarang Muhammad bermain di singgasananya, “Biarkan dia, Demi Allah di akan menjadi orang besar!” Ya ini pelajaran penting bahwa sebagai kakek harus selalu memberikan kata-kata bernada positif. Jangan justru men-cap cucu dengan perkataan negatif.

7. Wafatnya orang-orang terdekat yang paling dicintai merupakan pendidikan langsung dari Allah akan keimanan, bahwa Rasulullah sejak kecil sudah dilatih untuk tidak sedikitpun menggantungkan hidup kepada makhluk.

Wallahu a’lam

Advertisements

#7 Ibunda Nabi Wafat

1. Saat umur Nabi mencapai enam tahun, ibunda Aminah mengajak Muhammad kecil untuk mengunjungi makam ayahnya di Madinah.

2. Selain mengajak Muhammad, Aminah juga mengajak mertuanya ‘Abdul Muthallib dan Ummu Aiman pembantunya. Mereka harus menempuh jarak dari Makkah ke Madinah sekitar 400 km.

3. Setelah tiba di Madinah, Aminah mengajak Muhammad kecil ke makam ayahnya. Aminah begitu terharu saat menyaksikan Muhammad mendekati kuburan ‘Abdullah. Muhammad hanya dapat melihat gundukan tanah dan batu nisan, bukan wajah ayahnya.

4. Setelah satu bulan Aminah dan keluargnya tinggal di Madinah. Mereka pun bersiap kembali ke Makkah. Belum juga tiba di Makkah, Aminah menderita sakit dan semakin parah. Hingga akhirnya aminah wafat di Abwa, sebuah daerah antara Makkah dan Madinah.

5. Muhammad di usianya yang baru genap enam tahun, sudah menjadi seorang yatim piatu, tiada berayah-ibu. Kondisi ini menggores luka yang sangat perih dalam benak seorang anak kecil seperti Muhammad.

6. Peristiwa ini membuat terasa indah kandungan Hadits Nabi yang berbunyi, “Saya akan bersama dengan orang yang menyantuni anak yatim di surga, kemudian beliau mengatakan itu sambil mendekatkan jari telunjuk dan tengah sebagai perumpamaan dekatnya beliau dengan penyantun anak yatim.

7. Hadits tersebut tidak hanya semata-mata wahyu dari Allah, tetapi sebelumnya sudah menjadi pengalaman hidup yang dirasakan Rasulullah SAW.

8. Mari kita merenungi kembali betapa tinggi derajat orang yang memelihara anak yatim. Di antara anak-anak itu, ada yang kehilangan orang tua saat masih dalam kandungan, ada yang saat masih menyusui, ada yang tidak punya pakaian dan tempat tinggal, dan ada juga yang tidak memiliki makanan dan minuman. Di waktu yang sama, musuh islam datang menawarkan memenuhi kebutuhan mereka sehingga mereka mengambil alih pemeliharaan untuk mengalihkan dari agama Islam.

9. Dari peristiwa ini juga bisa diambil pelajaran bahwa anak yatim tidak boleh disembunyikan siapa ayahnya. Meski harus menempuh jarak yang cukup jauh dan melelahkan, Aminah tetap mengajak Muhammad kecil untuk mengetahui siapa ayahnya dengan mengunjungi makamnya.

Wallahu a’lam


#6 Pembelahan Dada Nabi Yang Pertama

1.Peristiwa ini terjadi di perkampungan Bani Saad, setelah Halimah kembali dari Makkah untuk meminta izin kepada ibunda Nabi agar masa pengasuhan Nabi diperpanjang. Usia Nabi saat pembelahan dada sekitar empat atau lima tahun.

2. Peristiwa ini dijelaskan dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas RA bahwa Rasulullah SAW didatangi Malaikat Jibril, yang saat itu Nabi sedang bermain-main dengan beberapa anak kecil lainnya. Malaikat Jibril memegang beliau dan menelentangkannya, lalu membelah dada dan mengeluarkan hati beliau dan mengeluarkan segumpal darah dari dada beliau, seraya berkata, “Ini adalah bagian setan yang ada pada dirimu.” Lalu Malaikat Jibril mencucinya di sebuah baskom dari emas dengan menggunakan air ZamZam, kemudian menata dan memasukannya ke tempatnya semula. Melihat kejadian tersebut anak-anak kecil lainnya berlarian mencari ibu susu Nabi (Halimah) dan berkata, “Muhammad telah dibunuh!”

3. Dengan adanya peristiwa pembelahan dada ini, Halimah merasa khawatir terhadap keselamatan beliau. Sehingga dia segera mengembalikan Nabi kepada ibunya di Makkah. Kemudian beliau hidup bersama ibunda tercinta hingga berumur enam tahun.

4. Peristiwa ini merupakan proses persiapan yang dilakukan Allah untuk calon Nabi-Nya. Agar kelak jiwa Muhammad bersih dari dosa dan godaan setan, sehingga dapat menyampaikan dengan baik tuntunan wahyu kepada ummatnya.

5. Peristiwa ini juga mengajarkan kita sebagai orang tua, bahwa saat anak masih kecil adalah waktu untuk membersihkan dari pengaruh-pengaruh buruk setan. Agar kelak anak mudah menerima bimbingan wahyu dari Allah dalam menjalani kehidupan. Jangan justru masa kecil anak kita memasukkan pengaruh-pengaruh setan kepada anak, seperti: diperdengarkan lagu-lagu yang tidak bermanfaat, dipertontonkan tayangan tidak mendidik, dan diajak ke lokasi-lokasi yang tidak membuat anak semakin mengenal Allah.

6. Para sahabat Nabi dari kalangan anak muda seperti Anas bin Malik meriwayatkan, bahwa ia pernah melihat di dada Rasulullah ada bekas jahitan sebagai bukti benarnya kejadian pembelahan dada ini. Jika Allah menghendaki, bisa saja malaikat menjahit kembali dada Nabi tidak meninggalkan bekas, namun Allah ingin memberikan tanda bahwa kejadian ini harus diimani nyata terjadi. Sungguh Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

7. Bentuk fisik Rasulullah banyak diceritakan oleh kalangan sahabat-sahabat muda, karena mereka sejak masih kecil sudah hidup bersama Rasul. Seperti Anas bin Malik menjadi pembantu Rasul di rumahnya sejak usia belia, bahkan sempat Rasul jadikan anak angkat. Berbeda dengan para sahabat senior dimana mereka malu/segan untuk memperhatikan secara detail bentuk fisik Rasulullah, hal ini sebagai bentuk penghormatan kepada baginda Nabi Muhammad SAW.

8. Pembelahan dada Nabi yang kedua terjadi saat menjelang peristiwa besar Isra Miraj.

Wallahu’alam


#5 Masa Menyusui Nabi Muhammad SAW

1.Setelah lahir, ibunda Nabi, Aminah menyusui Nabi selama 3 atau 7 hari. Kemudian Nabi diasuh oleh seorang budak perempuan warisan bapaknya yang bernama Ummu Aiman atau nama aslinya Barakah binti Tsa’labah. Kemudian beberapa hari setelah itu disusui oleh Tsuwaibah, mantan budak paman Nabi, Abu Lahab.

2. Tiba masa Nabi harus disusui oleh wanita lain di daerah yang jauh dari kota. Ini merupakan tradisi bangsa Arab, jika seorang bayi yang dilahirkan harus disusui wanita lain di daerah pedesaan. Hal ini bertujuan untuk: (1) meningkatkan daya tahan tubuh bayi karena banyak menghirup udara segar jauh dari polusi kota, (2) menguatkan otot karena perkampungan Bani Sa’ad merupakan daerah yang berbukit bukit, (3) untuk memelihara kefasihan berbahasa Arab yang baik, karena di daerah pedalaman bahasa lebih terjaga dibandingkan di kota Mekah yang pada saat itu didatangi banyak orang dari penjuru dunia.

3. Maka datanglah rombongan wanita mencari bayi yang mau disusui. Kemudian ditawarkanlah Rasulullah SAW kepada para wanita itu. Mereka semuanya menolak tatkala dikatakan bahwa anak tersebut anak yatim. Setelah semua rombongan itu telah mendapatkan anak susuan di Makkah, sementara Halimah belum mendapatkan anak susuan, maka dia kembali ke kediaman Aminah untuk terpaksa mengambil sebagai anak susu dengan berharap semoga ada keberkahan pada diri Muhammad kecil.

4. Ibu susu Nabi bernama Halimah binti Abi Dzuaib yang berasal dari perkampungan Bani Sa’ad sehingga sering disebut Halimah As-Sa’diyah.

5. Selama dua tahun, setiap enam bulan sekali Halimah datang ke Makkah menemui ibunda Muhammad hingga masa susuan usai. Berakhir masa susuan membuat Halimah sedih, karena sejak mengambil Muhammad sebagai anak susu banyak sekali keberkahan yang dirasakan dalam keluarganya. Kemudian, ia memberanikan diri mendatangi Aminah untuk meminta agar Muhammad kecil bisa tinggal lebih lama bersamanya beberapa waktu lagi. Dengan berat hati Aminah mengizinkan Halimah untuk mengurus Muhammad lebih lama.

6. Di dalam buku fikih sirah dijelaskan bahwa setiap manusia mendapatkan jatah kebaikan dari namanya. Pada masa Muhammad kecil Allah SWT telah menyiapkan kebaikan-kebaikan melalui para pengasuh dan perawat Nabi. Ibunya bernama Aminah (yang aman), bidan yang membantu saat persalinan yaitu ibunda dari Abdurrahman bin Auf yang bernama As-Syifa (kesembuhan), kemudian diasuh oleh Barakah (keberkahan), disusui oleh Tsuwaibah (pahala) dan Halimah (pahala) As-Sa’diyah.

Wallahu’alam


#4 Kelahiran Nabi Muhammad SAW

1. Nabi SAW lahir di Mekah pada tahun gajah (571 M) hari Senin, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim tatkala Rasulullah SAW ditanya tentang puasa hari Senin, beliau bersabda, “Hari itu adalah hari kelahiran saya dan hari saya menerima wahyu.”

2. Nasab beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr (Quraisy)

3. Saat beliau lahir sudah berstatus yatim, karena bapaknya, yaitu Abdullah bin Abdul Muthalib wafat ketika Nabi masih di dalam kandungan. Ibnu Katsir Rahimahullah berkata, “Ini adalah kondisi yatim dalam urutan yang tinggi.”

4. Hikmah yatimnya Nabi adalah agar tidak menjadi alasan bagi penolak dakwah beliau untuk berkata, Muhammad melakukan dakwahnya itu karena arahan dari ayahnya atau sebagai warisan ayahnya.

5. Hikmah lain Nabi dilahirkan dalam keadaan yatim, yaitu menjadikan beliau lebih tanggap terhadap nilai kemanusiaan. Karena orang yang telah merasakan berbeda jauh dengan yang belum pernah merasakan.

6. Kehidupan Nabi dalam usia balita bersama ibunya tanpa ditemani ayahnya bukan secara kebetulan, karena sebelum beliau telah hidup juga para Nabi yang dibesarkan oleh ibunya. Sebagai contoh: Nabi Ismail hidup bersama ibunya dan jauh dari ayahnya Nabi Ibrahim, Nabi Musa hidup bersama ibunya dan dibesarkan oleh ibunya, Nabi Isa besar bersama ibunya. Begitu juga Nabi Muhammad masa kecilnya dilalui bersama ibunya, Aminah binti Wahab.

7. Hal ini menunjukkan besarnya peran seorang ibu dalam mendidik anak. Sehingga berbanding lurus dengan betapa pentingnya memilih seorang istri yang kelak menjadi pengajar pertama dan utama bagi anak-anak kita. Sekali lagi, ini merupakan bukti nyata besarnya pengaruh perempuan dalam masyarakat islam.

Wallahu’alam


#3 Pelajaran Dari Fase Kehidupan Rasulullah

1. Jika sekarang usia kita masuk dalam rentang 0-40 tahun, maka ikutilah petunjuk Nabi berarti kita sedang dalam periode persiapan.

2. Dalam segala hal harus bersabar dalam proses menyiapkan. Karena persiapan membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan penugasan.

3. Jika sudah belajar Sirah Nabi kita akan sadar bahwa usia dalam periode persiapan harus diisi dengan mempelajari sebanyak mungkin keahlian yang kelak kita akan mahir di bidang itu. Dalam periode ini rentang waktunya cukup lama, sehingga bisa banyak peluang pelajaran hidup yang bisa kita coba dan nantinya kita bisa merasakan mana yang memang menjadi keahlian diri ini.

4. Jika sudah belajar Sirah Nabi kita akan sadar bahwa bagi kita umat islam tidak mengenal istilah usia pensiun. Kenapa? Karena jika mengikuti kehidupan Nabi, beliau justru Allah beri penugasan saat usia 40 tahun. Jika di negeri kita, usia 40 tahun itu usia persiapan akan hari tua bisa berupa mengurangi aktivitas, merawat cucu, menikmati dana pensiun, atau mengelola aset yang sudah lama ditabung saat usia produktif kita.

5. Jika sudah belajar Sirah Nabi kita akan sadar bahwa kelak di usia 50 tahun tetap dibutuhkan kondisi fisik yang prima. Sebagaimana Rasulullah SAW pada usia 55 tahun Allah takdirkan untuk mengatur strategi perang. Bahkan beliau ikut turun langsung dalam perang pertama yang dilakukan oleh umat islam, yaitu perang Badar.

6. Jika sudah belajar Sirah Nabi kita akan sadar bahwa dari usia 55 tahun hingga wafatnya Nabi pada usia 63 tahun, diperlukan fisik yang jauh lebih prima lagi. Karena di masa itu saat umat islam sudah hijrah ke Madinah, berturut-turut berlangsung peperangan yaitu Badar, Uhud, Khandaq, Khaibar, Mu’tah, Pembebasan Makkah, Hunain, dan Tabuk.

7. Karena sejarah bukan hanya peristiwa yang telah lalu dan menjadi tidak bermanfaat. Tapi sejarah akan terus berulang peristiwa dan nilai-nilai nya yang bisa kita jadikan bekal untuk menghadapi kondisi saat ini dan yang akan datang.

Wallahu’alam


#2 Fase Kehidupan Nabi Muhammad

1.Nabi wafat pada usia 63 tahun. Dari sini kita bisa membagi 2 periode dalam kehidupan Nabi, yaitu periode sebelum kenabian (0-40 tahun) dan periode setelah kenabian (40-63 tahun).

2. Pada periode setelah kenabian terbagi menjadi 2 periode lagi, yaitu periode sebelum hijrah atau biasa disebut di dalam Al-Qur’an periode Makkah (13 tahun) dan periode setelah hijrah atau biasa disebut di dalam Al-Qur’an periode Madinah (10 tahun).

3. Pada periode sebelum kenabian (0-40 tahun) bisa kita istilahkan dengan periode persiapan. Sementara periode setelah kenabian (40-63 tahun) kita istilahkan periode penugasan.

4. Lebih lama mana periode persiapan atau penugasan? Periode persiapan lebih lama karena berlangsung selama 40 tahun, sementara periode penugasan selama 23 tahun.

5. Mohon dipelajari dahulu sekaligus direnungkan poin 1 sampai 4 tersebut. Karena setiap episode kehidupan Nabi merupakan panduan juga bagi kehidupan kita saat ini.

Wallahu’alam