Andaikan Smartphone itu Qur’an

Sejak bangun tidur segera membuka smartphone

Entah hanya sekadar ingin melihat jam atau mengecek notifikasi sms atau email

Andaikan smartphone itu Qur’an

Sebelum berangkat beraktivitas, kembali mengecek smartphone untuk kesiapan dikala menjalani aktivitas

Andaikan smartphone itu Qur’an

Selama perjalanan menuju tempat beraktivitas, tak jua bisa lepas dari smartphone

Andaikan smartphone itu Qur’an

Dikala situasi penat dan membosankan di tengah kemacetan, smartphone seperti obat penawar kejenuhan, seakan tidak peduli atau bahkan maklum terhadap kemacetan

Andaikan smartphone itu Qur’an

Saat sedang beraktivitas pun sesekali disempatkan menengok smartphone

Seperti rela serius ber-multitasking demi mendapat manfaat darinya

Andaikan smartphone itu Qur’an

Ketika waktu istirahat, ingin segera menyelesaikan ishoma agar memiliki sisa waktu luang bercengkrama dengan smartphone sebelum kembali beraktivitas

Andaikan smartphone itu Qur’an

Ingat!

berinteraksi dengan smartphone bukan saja karena ada niat tapi karena ada kesempatan

Ketika dibonceng menggunakan sepeda motor

Ketika sedang berbicara dengan orang lain

Ketika sedang nonton di bioskop

Ketika sedang menunggu

Ketika jalan di trotoar

Ketika makan

Ketika..

Ketika..

Ketika..

Dimanapun ada kesempatan menengok smartphone pasti dilakukan

Andaikan smartphone itu Qur’an

Hidup adalah smartphone

Smartphone adalah hidup

Andaikan smartphone itu Qur’an

Sebelum tidur sambil bersandar di kasur me-review aktivitas ber-smartphone, atau mencari berita yang dapat menenangkan jiwa setelah lelah beraktivitas

Andaikan smartphone itu Qur’an

Andaikan smartphone itu Qur’an

Mungkin saja jumlah kilobyte data yang digunakan selama ber-smartphone, berjumlah sama dengan pahala yang mengalir Andaikan smartphone itu Qur’an

Seperti berlomba-lomba

Selalu ingin lebih kuota datanya, dari 300 ingin 500 MB, dari 1 ingin 2 GB

Selalu ingin lebih jumlah ayatnya, dari 5 ingin 10 ayat, dari 1 lembar ingin 2 lembar

Sama seperti megabyte terdiri dari kumpulan kilobyte

Sama seperti kata terdiri dari kumpulan huruf

Sama-sama dihitung satu persatu, jika data dihitung biayanya

Sama-sama dihitung satu persatu, jika huruf Qur’an dihitung pahalanya

Andaikan smartphone itu Qur’an

Alangkah lebih dahsyat para pengguna smartphone memperlakukan Qur’an seperti memperlakukan smartphone-nya

Alangkah lebih dahsyat para pengguna smartphone berinteraksi dengan Qur’an sebanyak berinteraksi dengan smartphone-nya

Jika ini terjadi maka…

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah

Hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan

Tiada daya dan upaya kecuali hanya Allah

Cukuplah Allah menjadi penolong

Jika ini terjadi maka…

Negara mana yang dapat mengalahkan kesejahteraan INDONESIA

Insya Allah

(Ahmad Dawamul Muthi)


Perindu Surga

bagi jiwa yang terus berharap pertemuan dengan-Nya

bagi jiwa yang bahagia hidup dengan menghidupkan sunnah Rasulullah SAW

bagi jiwa yang sadar bersegera taubat atas segala dosa karena yakin hari kiamat semakin dekat

bagi jiwa yang membesarkan Allah Yang Maha Kuasa dan mengkerdilkan segala urusan duniawi

bagi jiwa yang terus berdoa agar wafat dalam keadaan khusnul khotimah

karena perindu surga sekaligus perindu kematian


Wujudkan dengan perkalian

Bogor, Jumat (14/10/2011): Ketika tiba waktu makan tubuh akan merespon untuk segera makan, maka terpenuhilah asupan makanan. Sore hari setelah beraktivitas segera mandi untuk menyegarkan badan.

Jika ditelisik lebih jauh rangkaian kegiatan tersebut merupakan hal rutin yang biasa dilakukan. Semua kegiatan tersebut dapat terlaksana  setelah direncanakan sebelumnya kemudian melakukan apa yang direncanakan.

Ya, tanpa terasa semua kegiatan kecil sehari-hari kita merupakan buah dari rencana disertai eksekusinya. Namun, seringkali pola membuat rencana kemudian mewujudkannya dalam tindakan hanya diterapkan pada hal kecil, rutinitas.

Seringkali kita takut merencanakan hal besar, seperti rencana untuk menggapai mimpi. Bermacam alasan dikeluarkan, salah satunya ialah takut gagal.

Ketika berada di lantai dua suatu bangunan, bukankah tahapnya kita menaiki anak tangga satu demi satu sehingga dapat membawa kita naik ke atas. Semua hal besar di dunia ini selalu dapat terlaksana setelah melakukan hal kecil terlebih dahulu.

Jika melakukan hal kecil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti, makan, minum mandi, tidur, pergi ke kamar mandi saja kita bisa, maka untuk hal besar tidak perlu ragu lagi untuk melakukannya.

Kuncinya hanya dua, membuat rencana (plan) dan menjalankan rencana (action). Saya sangat senang untuk berbagi pemahaman tentang konsep sederhana mengenai plan dan action.

Jika pola hubungan plan dan action diibaratkan perkalian maka pemahaman akan semakin mudah. Setiap plan yang kita buat diberi nilai 1, begitu juga setiap action yang kita lakukan diberi nilai 1. Maka akan segera terlihat hasilnya 1 x1=1.

Menjadi sia-sia jika banyak sekali plan yang dibuat (semakin bertambah nilai 1, 2, 4, 6, 13, …. dst) tetapi sama sekali tidak disertai action (nilainya 0) maka yang terjadi adalah 13×0=0.

Lihat jika kita fokus kepada satu plan (nilai 1) dengan action yang terus menerus dilakukan untuk mewujudkannya (misalkan nilai 100), hasilnya akan istimewa 1×100=100. Belum lagi jika terus menerus ditambah action menjadi 200, 300 ataupun 1000 maka rencana/mimpi/cita-cita akan menjadi kenyataan.

Lain halnya bagi yang tidak  membuat rencana (nilai 0), namun banyak sekali action yang dilakukan (nilai 2, 10, 100, bahkan 5000) hasilnya akan mengecewakan 0×5000= 0. (16 Dzulqadah 1432 H)

Segera berencana dan segera action!

adamuthi.blogspot.comjannatuna.wordpress.com

adamuthi.tumblr.com| follow @adamuthi


Bagaimana?

Pagi itu, di dalam kelas, saya ingat benar ketika salah satu guru SMA saya mengatakan, “Dalam hidup ini kita harus merubah konsep, gimana nanti menjadi nanti gimana.”

Sampai saat ini saya tetap memegang teguh prinsip tersebut. Saya merasakan dua konsep tersebut memiliki perbedaan signifikan dalam proses memaknai kehidupan.

Konsep “gimana nanti” menggambarkan diri tidak memiliki perencanaan matang, atau bisa dibilang tidak memiliki target hidup.

“Gimana nanti” berarti membiarkan diri kita kalah terlebih dahulu dengan keadaan, yang memang kita sendiri memutuskan berpotensi untuk tidak siap dalam menghadapi sesuatu.

Ibarat seseorang sedang melaju di jalan tol, melihat tidak jauh lagi di depan akan ada gardu pembayaran tol, namun ia tidak tergerak untuk menyiapkan uang pembayaran. Hasilnya, ketika sampai di gardu pembayaran ia baru sibuk mencari uang yang menyebabkan memakan waktu yang cukup lama, sehingga menyebabkan antrian cukup panjang, bahkan karena terburu-buru uang untuk pembayaran terjatuh sebelum diterima oleh petugas. Seperti itu hasil yang didapat jika “gimana nanti terus bersemayam dalam diri, yaitu tidak optimal dalam mengerjakan sesuatu ditambah hasil yang diperoleh tidak memuaskan.

Seseorang yang menganut “gimana nanti-isme” merupakan orang yang reaktif, setelah sesuatu terjadi baru sibuk untuk menanggapinya.

Tipe seperti ini tergolong yang gemar menunda-nunda pekerjaan, sehingga pekerjaan yang ditunda tersebut akan menunda pekerjaan lain yang jauh lebih banyak lagi.

Berbeda dengan tipe penganut “nanti gimana-isme”, merupakan orang yang visioner, ia telah memikirkan kemungkinan sesuatu terjadi dan telah menyiapkan solusi ketika benar-benar terjadi.

Selalu merasakan bahwa masa yang akan datang merupakan sebuah ketidakpastian yang pasti, sehingga akan mendorong untuk siap menghadapinya. Tipe orang seperti ini tergolong preventif.

Tokoh-tokoh besar dalam sejarah dapat dikenal banyak orang melalui kepiawaiannya menyelesaikan suatu permasalahan, dikarenakan ia telah lebih dahulu melihat kemungkinan suatu peristiwa terjadi jauh sebelum waktunya terjadi.  Ia berpikir melebihi sudut pandang orang lain. Ia telah membayangkan di masa yang akan datang telah terjadi sesuatu yang ia bayangkan.

Dapat dikatakan, tipe orang seperti ini memiliki imajinasi yang tinggi untuk berani bermimpi menjemput kesuksesan. JIka bermimpi yang gratis saja tidak berani, bagaimana sesuatu bisa terjadi. Karena sesungguhnya kita hidup dalam pikiran kita. Jika kita berpikiran sanggup maka akan terjadi, jika berpikiran gagal maka gagalah.

Keseharian kita tanpa disadari terdiri dari mimpi-mimpi sederhana. Sesaat ketika bangun tidur kita sudah memimpikan akan ke kamar mandi, kemudian berpakaian, sarapan, lalu berangkat beraktifitas. Apa yang terjadi? Maka dalam sehari terjadilah semua mimpi tersebut yang mengantarkan kita di tempat kerja misalnya.

Jika sesaat setelah bangun tidur kita bermimpi untuk tidak melakukan aktifitas kemudian tidur lagi, maka itulah yang akan terjadi. Saat ini, aktifitas yang sedang kita lakukan merupakan buah dari mimpi kita pada waktu sebelumnya.

Saya berpandangan jika ada seseorang yang ditanya kesanggupannya mengenai suatu kegiatan/pekerjaan, kemudian menjawabnya dengan dua kata pembunuh potensi diri  “liat gimana nanti aj ya,” maka saya sudah menganggapnya tidak sanggup dan jangan berharap banyak kepadanya. Mengapa? Karena sebenarnya ia sendiri yang telah membuat dirinya tidak sanggup, namun ia berat untuk mengatakannya secara langsung. Sehingga yang dilakukannya mencari kata lain, dalam hal ini “gimana nanti” untuk menyembunyikan niat untuk tidak menyanggupinya agar terkesan tidak mengecewakan orang yang menanyakannya.

Semoga kita diberi kekuatan untuk menjauhi potensi keburukan dalam diri kita, agar senantiasa memperbaiki diri setiap waktunya. Semoga bermanfaat. Mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan.

(10 Rajab 1431 H / 12 Juni 2011. Jatiwaringin, Pondok Gede)


Integritas Diri

Menurut saya integritas merupakan kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Kualitas kepribadian seseorang berbanding lurus dengan integritas dirinya.

Seseorang yang memiliki visi besar tanpa integritas, maka visi tersebut hanya sekadar retorika belaka, tidak akan pernah tereksekusi untuk diwujudkan.

Seorang guru atau motivator dalam setiap kata yang diucapkannya bisa terasa sangat hambar, tidak terasa pengaruhnya bagi yang mendengarkan jika semua yang dikatakannya ternyata belum pernah dilakukannya.

Orang tua dalam mendidik anak sering mengalami kesulitan, mungkin permasalahannya ialah orang tua belum memberikan teladan terlebih dahulu kepada anak sehingga anak belum melihat teladan yang baik dari orang tua. Anak akan melihat orang tua hanya bisa menyuruh saja, sedangkan dirinya sendiri tidak melakukannya. Maka anak memandang orang tuanya tidak berwibawa, dalam hal ini integritas dapat dikatakan juga sebagai wibawa. Sebagai contoh: orang tua berusaha mendidik anak agar dapat makan di meja makan, padahal dia sendiri makan sesuka hatinya terkadang di meja makan, di depan tv, atau bahkan di kamar.

Atasan kepada bawahan juga harus menjaga wibawanya dengan tidak serta merta memberikan instruksi yang ternyata dirinya sendiri belum melakukannya, seperti: memberlakukan peraturan bawahan tidak boleh datang telat dalam rapat yang telah dijadwalkan bersama, tetapi fakta yang sering terjadi justru bawahan yang menunggu atasannya datang baru rapat dimulai. Jika hal seperti ini terus terjadi, maka antara bawahan dengan atasan akan terjadi perasaan saling tidak percaya.

Salah satu kegiatan yang paling membosankan adalah menunggu. Jika kita tidak ingin mengalami kegiatan menunggu, maka jangan pernah membuat orang lain menunggu kita, karena hukum sebab akibat senantiasa terjadi. Apa yang orang lain rasakan disebabkan oleh diri kita, maka akan kita rasakan juga.

Ketika terlambat sebenarnya kita sedang menghancurkan integritas diri kita sendiri. Jika ternyata ketika telat bertepatan dengan diundurnya suatu agenda sehingga kita menjadi tidak terhitung telat bagaimana?Apakah kita bisa dikatakan tetap memiliki integritas? Jawabnya ya, Anda tetap memiliki integritas tetapi perlu diingat dalam hal ini Anda hanya “terlihat” memiliki integritas di mata orang lain tetapi tidak kepada diri sendiri. Sekali saja diri ini merusak integritas, maka godaan untuk terus melanjutkan praktik perusakan integritas diri akan terus berlanjut. Dikarenakan kita akan memberikan kompromi sedikit demi sedikit kepada diri yang akan berdampak semakin buruk kepada integritas diri kedepannya.

Jika kita meyakini hukum sebab akibat maka dengan sendirinya kita terdorong untuk terus memperbaiki diri sendiri dahulu sebelum memimpin atau mendidik orang lain. Teringat perkataan AA Gym yang menjadi sangat logis jika beliau mengatakan prinsip 3M: Mulai dari diri sendiri, Mulai dari Hal yang kecil, dan Mulai dari sekarang. Saya sangat setuju dengan konsep memperbaiki diri yang diutarakan AA Gym tersebut.

Oleh karenanya Allah berfirman dalam surat Al-Ahzab: 21 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (iaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. Kita telah diberikan teladan yang terbaik dari panutan kita Rasulullah SAW, semoga kita termasuk dalam barisan umat beliau di akhirat kelak.

Dapat disimpulkan dengan menjaga integritas diri dapat memberikan dampak bagi orang lain. Memperbaiki dari hal yang kecil, yaitu diri sendiri maka dapat memberikan teladan bagi lingkungan sekitar kita. Dimulai dari lingkungan yang kecil, yaitu keluarga akan dapat memberikan teladan bagi lingkungan yang lebih besar, yakni masyarakat. Lingkungan masyarakat dapat memberikan teladan bagi lingkungan aktivitas sehari-hari kita seperti tempat kita kerja.

Sistem perbaikan terus bergerak seperti itu untuk saling memberikan teladan sampai kepada tataran yang terbesar, negara kita. Maka jika proses ini berjalan dengan baik, akan menjadi semakin nyata terlihat kebangkitan negara Indonesia ini.

Mari kita menjaga integritas diri agar saling memberikan teladan yang baik kepada lingkungan sekitar kita, karena setiap kita adalah pemimpin minimal bagi diri kita sendiri. (3 Rajab 1431 H-5 Juni 2011. Kelapa Dua, Depok)


Nikmat

Sungguh, banyak sekali nikmat yang saya rasakan hari ini

http://adamuthi.blogspot.com/2011/06/nikmat.html

Alhamdulillah


Bekerja Untuk Indonesia

Kita sama-sama mengetahui kondisi Indonesia. Jangan pernah sedikitpun keluar dari lisan kita ejekan bahkan cercaan. Pahami,  bangsa ini adalah cermin diri kita. Penilaian pihak lain terhadap bangsa ini sebenarnya penilaian terhadap diri kita masing-masing.

Saat ini diri kita sedang bermasalah, yang menjadikan bermasalahnya negara ini.

Mari meyakini hukum sebab akibat. Sebab memperbaiki diri, akibatnya memperbaiki keluarga. Sebab memperbaiki keluarga, akibatnya memperbaiki lingkungan sekitar. Sebab memperbaiki lingkungan sekitar, akibatnya memperbaiki Negara ini.

Semuanya dimulai dari hal kecil – satu titik. Diri kita. Mari menjadi satu titik dalam pusaran air yang senantiasa mengajak sekeliling kita untuk terus berputar, semakin lama putaran akan semakin besar, amat besar, sangat besar, hingga Sabang sampai Merauke. Jadikan setiap putaran demi putaran sebagai tenaga yang sinergis untuk memperbaiki Indonesia.  Kita paham betul untuk memperbaiki kondisi negara ini diawali dengan memperbaiki diri kita sendiri.

Pemahaman saya ini tersadarkan melalui kumpulan bait-bait merdu. Lagu ini ibarat satu titik pusaran yang menggerakan saya, selanjutnya saya ingin pusaran ini terus berputar dan terus membesar melalui blog ini.

luas samudera kan kami arungi

menuju hadapan cita mewangi

semua rintangan yang kita hadapi

tak akan menghapus tekad sejati

berjuang tuk bangsaku, sepenuh hati mengabdi

berjuang tuk rakyatku, sepenuh daya layani

raih Indonesia sejahtera

bekerja tuk bangsaku

bekerja tuk rakyatku

bekerja tuk umatku

Bekerja Untuk Indonesia

jaya bangsaku

jaya negeriku

jayalah indonesia

(dapat diunduh melalui: http://www.4shared.com/audio/8XZn-Gzh/Bekerja_Untuk_Indonesia_-_Shou.htm)


driver ethernet card hilang, solusinya?

Baru saja saya mengutak-atik cara mencari driver ethernet card yang hilang di komputer. Akhirnya mendapatkan solusinya. Berikut link yang menjelaskan solusi permasalahan tersebut. Semoga bermanfaat.

http://fariedrj.blogspot.com/2010/10/install-driver-windows-tanpa.html


Belahan bumi lain

Saat ini saya sedang bergerak menuju ujung barat Indonesia (Banda Aceh-Medan). Bagi yang sedang tidak ada kegiatan yuuk. Bagi yang senang travelling yuuk. Bagi yang berasal dari daerah ini, kebetulan sedang tidak pulang kampung yuuk. Bagi yang ingin bernostalgia yuuk. Bagi yang ingin mengikuti perjalanan saya hayuuukkk.

Saya ingin ”BERBAGI” melalui http://adamuthi.tumblr.com


Di tengah kesibukan

Dalam rangka  terus membangun integritas diri, maka di sela-sela kesibukan harus disempatkan.

Ingin rasanya mencari sesuatu yang menarik. Ternyata bisa menemukan kutipan yang berharga, semoga bisa dijadikan bahan bakar  diri agar tetap bertahan sebagaimana mestinya.

“Perubahan memerlukan Anda semua. Bersatu, bergerak, dan menyelesaikannya” (Rhenald Kasali)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.